05

Akulturasi Budaya: Gamelan di Era Kesultanan dan Penyebaran Islam

Diposting pada

Runtuhnya Majapahit tidak serta-merta melenyapkan gaung gamelan di tanah Jawa. Sebaliknya, kehadiran Islam di Nusantara membawa babak baru yang penuh dengan kreativitas dan strategi budaya. Di tangan para ulama dan sultan, gamelan yang dulunya merupakan sarana pemujaan dewa-dewa Hindu-Buddha bertransformasi menjadi media dakwah yang sangat efektif, menciptakan sebuah harmoni unik antara tradisi lokal dan nilai-nilai tauhid.

Peran Walisongo: Gamelan sebagai Jembatan Dakwah

Penyebaran Islam di Jawa, khususnya oleh Walisongo, dilakukan dengan pendekatan budaya yang sangat halus (persuasif). Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga adalah dua tokoh kunci yang menyadari betapa melekatnya suara gamelan dalam sanubari masyarakat Jawa. Alih-alih melarangnya, mereka justru memodifikasi instrumen dan komposisi musik untuk menyisipkan pesan-pesan religius.

Sunan Bonang dikenal melalui pengembangannya pada instrumen Bonang, yang namanya sendiri sering dikaitkan dengan gelar beliau. Beliau menciptakan gending-gending yang mampu menyentuh sisi spiritual pendengarnya. Sementara itu, Sunan Kalijaga menggunakan pertunjukan wayang kulit yang diiringi gamelan untuk menarik massa. Masyarakat yang ingin menonton pertunjukan tersebut tidak dipungut biaya, melainkan cukup “membayar” dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Di sinilah gamelan berfungsi sebagai “magnet” sosiologis yang menyatukan masyarakat dalam ajaran baru tanpa kekerasan.

Lahirnya Gamelan Sekaten: Tradisi dan Identitas Islam

Salah satu warisan paling monumental dari era Kesultanan adalah Gamelan Sekaten. Kata “Sekaten” sendiri diyakini berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat syahadat). Gamelan ini memiliki fisik yang lebih besar dan suara yang lebih menggelegar dibandingkan gamelan standar, dimaksudkan agar suaranya bisa menjangkau masyarakat luas hingga ke luar halaman masjid.

Hingga saat ini, Keraton Yogyakarta dan Surakarta masih rutin mengeluarkan Gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogogwiloto) setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini merupakan bukti nyata bagaimana sebuah instrumen musik yang awalnya dianggap produk “duniawi” atau “pra-Islam” bisa diadopsi sepenuhnya ke dalam institusi agama dan kerajaan Islam di Jawa.

Perpecahan Giyanti dan Standarisasi Gaya (Langgam)

Setelah masa Walisongo, perkembangan gamelan mencapai puncaknya di bawah naungan Kesultanan Mataram Islam. Namun, peristiwa politik besar yakni Perjanjian Giyanti (1755) membawa dampak signifikan pada estetika gamelan. Kerajaan Mataram pecah menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Perpecahan ini melahirkan dua langgam (gaya) yang berbeda:

  1. Gaya Surakarta (Solo): Cenderung memiliki karakter suara yang lebih lembut, dinamis, dan penuh hiasan (cengkok) yang rumit.
  2. Gaya Yogyakarta (Jogja): Mempertahankan karakter yang lebih gagah, tegas, dan saklek (mengikuti pakem kuno).

Perbedaan ini tidak hanya soal teknis pukulan, tetapi juga mencerminkan filosofi masing-masing keraton dalam memandang kehidupan dan kekuasaan. Di masa ini pula, penyusunan notasi mulai dipikirkan lebih serius, meskipun sistem notasi tertulis (seperti Notasi Kepatihan) baru berkembang pesat di kemudian hari.

Gamelan sebagai Alat Diplomasi dan Prestise Kerajaan

Pada era Kesultanan, kepemilikan sebuah set gamelan dengan kualitas perunggu terbaik dan suara yang “nyamleng” merupakan simbol kewibawaan seorang penguasa. Gamelan menjadi bagian tak terpisahkan dari tata krama istana. Setiap tamu agung dari luar negeri, termasuk utusan-utusan Eropa (Belanda dan Inggris), selalu disambut dengan dentuman gamelan yang megah.

Para Sultan dan Sunan pada masa itu bertindak sebagai pelindung seni (patron of arts). Mereka mempekerjakan abdi dalem niyaga (penabuh gamelan) profesional untuk menjaga kelestarian gending-gending klasik. Proses adaptasi ini membuktikan bahwa Islam di Jawa tidak menghancurkan tradisi lama, melainkan memberi warna baru yang membuat gamelan tetap relevan di tengah perubahan zaman yang drastis.

Penutup: Harmoni dalam Perbedaan

Masa Kesultanan Islam adalah periode di mana gamelan mengalami pendewasaan bentuk dan fungsi. Ia tidak lagi hanya milik langit, tetapi juga milik umat. Melalui akulturasi yang cerdas, gamelan berhasil melampaui batasan agama dan menjadi identitas nasional yang kokoh. Dari halaman masjid hingga pendopo keraton, gamelan terus berdengung sebagai simbol toleransi dan keindahan budaya Nusantara.