04

Awal Mula dan Gamelan di Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Diposting pada

Gamelan bukan sekadar sekumpulan instrumen musik yang dipukul; ia adalah personifikasi dari peradaban Jawa yang kompleks. Jauh sebelum panggung konser modern ada, gamelan telah berdengung di lorong-lorong waktu kerajaan kuno, menjadi saksi bisu transisi spiritual dan politik di Nusantara. Memahami sejarah gamelan berarti menggali akar identitas masyarakat Jawa yang sangat dipengaruhi oleh kosmologi Hindu-Buddha.

Mitologi Sang Hyang Guru: Suara dari Langit

Dalam kepercayaan tradisional Jawa, asal-usul gamelan tidak dimulai dari tangan manusia, melainkan dari kehendak dewata. Mitologi menyebutkan bahwa pada tahun Saka 167 (sekitar 230 Masehi), Sang Hyang Guru yang menguasai seluruh tanah Jawa menciptakan sebuah gong bernama Lokanantha.

Awalnya, gong tersebut hanya digunakan untuk memanggil para dewa. Namun, seiring bertambahnya kebutuhan untuk menyampaikan pesan yang lebih spesifik, Sang Hyang Guru menciptakan dua gong tambahan hingga membentuk set Gamelan Munggang. Inilah yang diyakini sebagai cikal bakal ansambel gamelan. Meski ini adalah mitos, secara sosiologis ia menunjukkan bahwa sejak awal, gamelan telah diposisikan sebagai alat komunikasi yang sakral dan memiliki derajat yang sangat tinggi dalam strata sosial.

Jejak Arkeologis: Membaca Relief Candi Borobudur

Jika mitologi memberikan ruh, maka arkeologi memberikan bukti fisik. Bukti tertua mengenai keberadaan instrumen musik di Jawa dapat kita temukan pada dinding-dinding Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra.

Pada relief-relief tersebut, terlihat gambaran berbagai instrumen yang menyerupai bentuk gamelan kuno, seperti:

  • Lute (kecapi berdawai).
  • Flute (suling bambu).
  • Ceng-ceng (simbal kecil).
  • Kendhang (gendang kulit).

Satu hal menarik yang dicatat oleh para sejarawan adalah bahwa instrumen pada masa itu belum sepenuhnya berbahan dasar logam (perunggu) seperti sekarang. Banyak instrumen yang masih menggunakan bambu atau kayu. Perubahan menuju material perunggu secara masif diperkirakan terjadi seiring dengan kemajuan teknologi metalurgi di masa kerajaan Jawa Timur, yang memungkinkan terciptanya resonansi suara yang lebih megah dan tahan lama.

Gamelan sebagai Simbol Kosmologi Hindu-Buddha

Pada masa Kerajaan Kediri, Singasari, hingga puncak kejayaan Majapahit, gamelan bukan hanya hiburan rakyat, melainkan instrumen negara. Musik dalam pandangan Hindu-Buddha dianggap sebagai representasi dari harmoni alam semesta. Bunyi gong yang rendah dan dalam melambangkan kesatuan dengan Tuhan atau pusat alam semesta, sementara instrumen lainnya yang lebih ritmis melambangkan dinamika kehidupan makhluk hidup.

Setiap pertunjukan gamelan di dalam keraton selalu dikaitkan dengan ritual pemujaan dewa atau upacara penobatan raja. Di masa ini, dikenal istilah Gamelan Kodhok Ngorek dan Gamelan Monggang yang memiliki tangga nada sangat sederhana namun memiliki vibrasi magis yang sangat kuat. Raja dianggap sebagai perwakilan dewa di bumi, dan suara gamelan adalah media yang menghubungkan doa-doa manusia dengan telinga para penghuni langit.

Kejayaan Majapahit dan Standarisasi Instrumen

Memasuki era Kerajaan Majapahit, gamelan mengalami standarisasi yang lebih rapi. Pengaruh budaya India masih terasa, namun kreativitas lokal (genius lokal) masyarakat Jawa mulai mendominasi. Di masa ini, peran “Mpu Gamelan” atau pembuat gamelan mulai mendapatkan posisi terhormat. Pembuatan gamelan bukan sekadar menempa logam, melainkan sebuah proses asketisme (tirakat) di mana sang perajin harus berpuasa agar instrumen yang dihasilkan memiliki “jiwa” atau khodam.

Struktur ansambel mulai terbagi menjadi instrumen pemangku irama (kendhang), instrumen melodi (saron dan bonang), dan instrumen pengukuh (gong). Harmoni ini mencerminkan tatanan sosial Majapahit yang sangat teratur namun tetap fleksibel. Pengaruh Majapahit inilah yang nantinya membawa cikal bakal gamelan menyebar ke Bali, yang hingga kini kita kenal sebagai Gamelan Bali, meskipun kemudian keduanya berkembang dengan karakter yang berbeda.

Penutup: Fondasi Budaya yang Tak Tergoyahkan

Masa Hindu-Buddha adalah masa persemaian bagi gamelan. Di periode inilah gamelan mendapatkan bentuk fisik, fungsi ritual, dan nilai filosofisnya. Tanpa fondasi yang kuat dari masa kerajaan-kerajaan kuno ini, gamelan mungkin tidak akan pernah memiliki kedalaman spiritual yang kita rasakan saat ini. Suara perunggu yang ditempa dengan doa dan sejarah ini telah menjadi detak jantung kebudayaan Jawa yang terus berdenyut hingga berabad-abad kemudian.